Dunia pendidikan terus bergerak, dan guru—termasuk guru PAUD—tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama. Teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), hadir bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi untuk menguatkan kreativitas dan efektivitas pembelajaran. Inilah semangat yang saya bawa ketika dipercaya menjadi narasumber pada kegiatan Diklat Online “Media Ajar PAUD Terintegrasi dengan AI” yang diselenggarakan pada 20–25 Desember 2025.
Bagi saya pribadi, kesempatan ini bukan sekadar berbagi materi, tetapi juga berbagi pengalaman, kegelisahan, dan harapan tentang masa depan pendidikan anak usia dini. Bersama rekan narasumber hebat, Ressy Riezki Chairani, M.Pd., saya bertemu dengan para pendidik PAUD dari berbagai daerah yang punya satu kesamaan: ingin belajar dan berkembang.
Selama diklat baik saat tatap muka virtual dan diskusi di group WA, kami membahas bagaimana media pembelajaran PAUD bisa dibuat lebih menarik, kontekstual, dan sesuai dengan karakter anak, dengan bantuan teknologi AI. Banyak peserta awalnya merasa AI itu “terlalu canggih” atau “hanya untuk orang IT”. Namun, di sinilah titik pentingnya: AI bisa sangat sederhana dan ramah, bahkan untuk guru PAUD.
Kami berdiskusi tentang pembuatan media ajar visual, cerita anak, lembar aktivitas, hingga ide animasi sederhana yang tetap berpijak pada prinsip perkembangan anak usia dini. AI bukan pusatnya, anaklah pusatnya. AI hanyalah alat bantu agar guru punya lebih banyak waktu untuk mendampingi, mengamati, dan memfasilitasi tumbuh kembang anak.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika peserta mulai menyadari bahwa mereka sebenarnya sudah kreatif sejak lama. AI hanya membantu “mempercepat” dan “merapikan” ide-ide itu. Dari yang awalnya ragu, berubah menjadi antusias. Dari yang takut salah, berubah menjadi berani mencoba. Bagi saya, itu adalah capaian terbesar sebuah diklat.
Dalam sesi saya, saya selalu menekankan satu hal: guru PAUD tidak perlu menjadi ahli teknologi, cukup menjadi pembelajar yang terbuka. Tidak apa-apa mencoba, tidak apa-apa salah, yang penting mau bergerak. Anak-anak yang kita dampingi hari ini adalah generasi yang akan hidup berdampingan dengan teknologi, dan guru memiliki peran penting untuk mengenalkan teknologi secara sehat, kreatif, dan beretika.
Tatap Muka Virtual
Kegiatan diklat ini juga sejalan dengan semangat Pendidikan Bermutu untuk Semua dan pendekatan pendidikan yang ramah, di mana teknologi tidak membuat jarak, tetapi justru mendekatkan. Mendekatkan guru dengan sumber belajar, mendekatkan anak dengan pengalaman belajar yang menyenangkan, dan mendekatkan pendidikan dengan realitas zaman.
Sebagai praktisi pendidikan, saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dari satu media ajar yang dibuat dengan lebih kreatif. Dari satu guru yang berani mencoba hal baru. Dari satu kelas PAUD yang hari ini lebih hidup dan bermakna.
Terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah berproses bersama kami. Terima kasih juga kepada panitia dan semua pihak yang telah menghadirkan ruang belajar yang hangat dan inspiratif. Semoga diklat ini tidak berhenti sebagai sertifikat atau dokumentasi, tetapi benar-benar hidup dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Mari terus belajar, beradaptasi, dan bertumbuh. Karena pendidikan anak usia dini adalah fondasi masa depan, dan masa depan itu layak kita siapkan dengan sebaik-baiknya—dengan hati, kreativitas, dan sentuhan teknologi yang manusiawi.

No comments:
Post a Comment