PELATIHAN UNPLUGGED CODING UNTUK GURU RA - IGRA SURABAYA

Rabu, 12 Agustus 2026 menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi saya untuk kembali berbagi bersama para guru Raudhatul Athfal (RA) Kota Surabaya. Saya mendapat kesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Unplugged Coding yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Guru Raudhatul Athfal (KKGRA) Kota Surabaya. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kementerian Agama Kota Surabaya dengan tema Pelatihan Unplugged Coding untuk Guru RA: Membangun Computational Thinking Melalui Aktivitas Bermain Tanpa Gawai.

Bagi sebagian guru, istilah coding mungkin masih terdengar seperti sesuatu yang rumit dan identik dengan komputer, laptop, atau tablet. Padahal, ketika berbicara tentang pendidikan anak usia dini, coding tidak harus dimulai dari perangkat digital. Justru, anak-anak dapat mengenal cara berpikir seperti seorang programmer melalui kegiatan bermain yang sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan mereka. Inilah yang menjadi semangat utama dalam pelatihan unplugged coding.

Coding Tidak Harus Pakai Komputer

Dalam sesi pelatihan, saya mengajak para guru melihat coding dari sudut pandang yang lebih sederhana. Coding bukan sekadar belajar bahasa pemrograman, tetapi bagaimana anak belajar berpikir runtut, memecahkan masalah, mengenali pola, menyaring informasi penting, dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan.

Empat kemampuan tersebut dikenal sebagai empat pilar berpikir komputasional, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma.

Menariknya, keempat kemampuan tersebut sebenarnya sudah sering muncul dalam aktivitas bermain anak. Guru hanya perlu mengemasnya dengan lebih terarah.

Dekomposisi: Masalah Besar Jadi Lebih Sederhana

Dekomposisi adalah kemampuan memecah sesuatu yang besar atau rumit menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dipahami.

Misalnya, guru mengajak anak bermain “Ayo Bersiap ke Sekolah”. Anak diajak menyebutkan apa saja yang perlu dilakukan: bangun tidur, mandi, memakai pakaian, sarapan, memakai sepatu, lalu berangkat.

Aktivitas sederhana tersebut sebenarnya sudah mengajarkan konsep berpikir komputasional.

Anak belajar bahwa sebuah kegiatan besar ternyata terdiri dari beberapa langkah kecil. Dengan cara ini, konsep yang terlihat “canggih” menjadi sangat dekat dengan dunia anak.

Pengenalan Pola: Menemukan Sesuatu yang Berulang

Pilar kedua adalah pattern recognition atau pengenalan pola.

Guru dapat menggunakan benda-benda sederhana seperti balok, tutup botol, kartu warna, gambar buah, atau benda yang ada di sekitar kelas.

Contohnya, guru membuat pola:

Merah – Biru – Merah – Biru – ...

Kemudian anak diminta menebak warna berikutnya.

Selain warna, pola juga dapat dibuat melalui gerakan. Misalnya tepuk tangan – hentakkan kaki – tepuk tangan – hentakkan kaki. Anak kemudian melanjutkan pola tersebut.

Aktivitas seperti ini terlihat seperti permainan biasa, tetapi sebenarnya sedang melatih kemampuan anak mengenali keteraturan dan membuat prediksi.

Abstraksi: Fokus pada Hal yang Penting

Abstraksi mengajarkan anak untuk memilih informasi yang penting dan mengabaikan hal yang tidak diperlukan.

Dalam pembelajaran PAUD, konsep ini bisa dilakukan melalui permainan yang sangat sederhana.

Misalnya, guru menyiapkan berbagai gambar kendaraan. Anak diminta memilih kendaraan yang dapat digunakan untuk pergi melalui jalan raya. Anak tidak harus menghafalkan semua karakteristik kendaraan. Mereka cukup fokus pada informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permainan.

Dengan aktivitas tersebut, anak belajar bahwa ketika menghadapi masalah, kita tidak selalu membutuhkan semua informasi. Kita perlu menentukan mana yang penting.

Algoritma: Menyusun Langkah dengan Urut

Pilar terakhir adalah algoritma, yaitu kemampuan menyusun langkah-langkah secara berurutan untuk mencapai tujuan.

Contoh yang paling dekat adalah kegiatan mencuci tangan.

Guru dapat bertanya kepada anak, “Kalau kita mau mencuci tangan, langkah pertama apa?”

Anak mungkin menjawab membuka keran. Setelah itu membasahi tangan, menggunakan sabun, menggosok tangan, membilas, dan mengeringkan tangan.

Jika langkah-langkah tersebut diacak, anak dapat diajak menyusunnya kembali.

Inilah algoritma dalam bentuk yang sangat sederhana dan sesuai dengan dunia PAUD.




Guru Kreatif, Anak Aktif

Hal yang paling menarik dari unplugged coding adalah guru tidak membutuhkan perangkat mahal untuk memulainya. Kertas, kartu gambar, balok, tali, tutup botol, atau benda-benda di sekitar kelas dapat menjadi media pembelajaran.

Yang paling penting bukan alatnya, tetapi cara guru merancang aktivitas bermain agar anak terbiasa berpikir.

Pelatihan ini juga menjadi pengingat bahwa pembelajaran coding untuk anak usia dini tidak perlu dibuat rumit. Anak tidak harus langsung menulis kode. Mereka dapat belajar coding melalui gerakan, cerita, permainan, teka-teki, menyusun gambar, mencari pola, hingga mengikuti instruksi.

Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, para guru RA Kota Surabaya semakin percaya diri mengembangkan aktivitas unplugged coding yang menyenangkan di kelas. Sesuai tujuan kegiatan, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini.

Bagi saya, pengalaman berbagi kali ini kembali menegaskan satu hal: belajar berpikir komputasional tidak harus selalu menggunakan komputer.

Kadang, cukup dengan selembar kertas, beberapa kartu gambar, sebuah permainan sederhana, dan guru yang kreatif, anak-anak sudah bisa mulai belajar menjadi problem solver kecil.

Karena pada akhirnya, tujuan utama coding untuk anak bukan membuat mereka menjadi programmer sejak dini, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi anak yang mampu berpikir, mencoba, menemukan solusi, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

Comments

Popular posts from this blog

KODING UNTUK PAUD HIMPAUDI KABUPATEN MALANG

BELAJAR CODING DENGAN SCRATCH

LAPORAN BELAJAR MURID PAUD