AI DALAM PEMBELAJARAN SMA NEGERI 7 SURABAYA
Perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence
(AI), telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan belajar. Dunia
pendidikan pun tidak dapat menghindari perubahan tersebut. Kini, guru tidak
lagi hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga mampu menghadirkan
pengalaman belajar yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik
generasi digital. Inilah semangat yang saya bagikan saat menjadi narasumber
dalam kegiatan Diklat Pengembangan Kompetensi Digital GTK bertema "Pemanfaatan
Artificial Intelligence dalam Pembelajaran" yang diselenggarakan di SMA
Negeri 7 Surabaya bekerja sama dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Surabaya.
Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat istimewa karena
mempertemukan para pendidik dengan berbagai latar belakang mata pelajaran untuk
bersama-sama mempelajari bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara bijak dalam
proses pembelajaran. Acara dibuka oleh Kepala SMAN 7 Surabaya, Miftahul Huda,
S.Pd., M.Pd., dan menghadirkan keynote speaker Dr. Kiswanto, S.Pd., M.Pd.,
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Surabaya. Kehadiran beliau memberikan
gambaran bahwa transformasi digital di dunia pendidikan bukan lagi sekadar
pilihan, melainkan sebuah kebutuhan yang harus disiapkan bersama.
Pada sesi yang saya bawakan, fokus utama bukanlah mengenalkan AI sebagai teknologi yang rumit, tetapi sebagai asisten kerja guru. Saya mengajak peserta melihat AI sebagai alat yang mampu membantu menyelesaikan pekerjaan administratif, mempercepat pembuatan media pembelajaran, hingga menghasilkan konten kreatif yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.
Saya memulai sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, "Berapa
banyak waktu yang Bapak dan Ibu habiskan untuk membuat bahan ajar setiap
minggu?" Hampir seluruh peserta mengakui bahwa sebagian besar waktu mereka
tersita untuk menyusun presentasi, membuat soal, mencari gambar, hingga
mendesain media pembelajaran. Dari sinilah diskusi berkembang mengenai
bagaimana AI dapat menghemat waktu sehingga guru memiliki lebih banyak
kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta didik.
Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta
adalah prompt engineering, yaitu keterampilan menyusun instruksi yang efektif
agar AI menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan. Saya menekankan bahwa kualitas
jawaban AI tidak hanya bergantung pada kecanggihannya, tetapi juga pada
kualitas pertanyaan yang diberikan. Guru belajar menyusun prompt yang jelas,
lengkap, dan kontekstual sehingga AI mampu menghasilkan materi yang lebih
akurat dan relevan dengan tujuan pembelajaran.
Peserta juga diajak mencoba berbagai pemanfaatan AI dalam
kegiatan sehari-hari. Mulai dari menyusun modul ajar, membuat tujuan
pembelajaran, menyusun rubrik penilaian, merancang soal berbasis HOTS, hingga
menghasilkan ringkasan materi yang mudah dipahami peserta didik. Banyak guru
yang terkejut ketika pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu satu hingga dua
jam dapat diselesaikan hanya dalam beberapa menit dengan bantuan AI.
Bagian yang paling dinanti adalah praktik membuat media
pembelajaran berbasis AI. Saya memperkenalkan beberapa platform AI yang dapat
dimanfaatkan guru sesuai kebutuhan. Salah satunya adalah Google Flow, sebuah
platform generatif yang memungkinkan pengguna membuat video sinematik hanya
melalui deskripsi teks. Dengan Flow, guru dapat mengembangkan animasi
pembelajaran yang menarik tanpa harus memiliki kemampuan editing profesional.
Pada sesi praktik, peserta belajar menyusun storyboard sederhana, menentukan karakter, memilih gaya visual, serta membuat prompt yang mampu menghasilkan video sesuai materi pelajaran. Saya memperlihatkan bagaimana sebuah konsep sederhana, misalnya proses fotosintesis, siklus air, atau sejarah perjuangan bangsa, dapat divisualisasikan menjadi video pendek yang menarik dan mudah dipahami peserta didik.
Selain Flow, peserta juga dikenalkan pada berbagai aplikasi
AI lain yang dapat saling melengkapi dalam proses pembelajaran, mulai dari AI
untuk menghasilkan gambar, membuat presentasi otomatis, membantu menulis
materi, hingga menyusun evaluasi pembelajaran. Saya menegaskan bahwa tidak ada
satu aplikasi yang mampu memenuhi semua kebutuhan guru. Yang terpenting adalah
memahami fungsi masing-masing aplikasi sehingga dapat dipadukan sesuai tujuan
pembelajaran.
Suasana pelatihan berlangsung sangat interaktif. Para
peserta tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi langsung mencoba
berbagai aplikasi menggunakan perangkat masing-masing. Diskusi berkembang ke
berbagai topik, mulai dari etika penggunaan AI, perlindungan data pribadi,
validasi informasi yang dihasilkan AI, hingga strategi mengintegrasikan
teknologi tanpa mengurangi peran guru sebagai fasilitator pembelajaran.
Saya juga mengingatkan bahwa AI bukanlah pengganti guru.
Sebaliknya, AI adalah alat yang membantu guru menjadi lebih produktif dan
kreatif. Nilai-nilai pendidikan seperti empati, pembentukan karakter,
komunikasi, dan keteladanan tetap menjadi kekuatan utama seorang pendidik yang
tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Hal yang paling membahagiakan adalah melihat perubahan pola
pikir peserta selama pelatihan berlangsung. Di awal kegiatan, masih banyak guru
yang merasa AI adalah sesuatu yang sulit dipelajari. Namun setelah mencoba
secara langsung, mereka menyadari bahwa teknologi ini justru sangat ramah
digunakan dan mampu mempercepat berbagai pekerjaan yang selama ini dianggap
melelahkan.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang
muncul, bahkan setelah sesi resmi selesai. Beberapa guru mulai mendiskusikan
rencana membuat video pembelajaran untuk mata pelajaran masing-masing,
sementara yang lain ingin mengembangkan bank soal berbasis AI dan media
interaktif yang dapat digunakan di kelas. Semangat belajar seperti inilah yang
menjadi modal utama dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada SMA Negeri 7 Surabaya, Cabang
Dinas Pendidikan Kota Surabaya, serta IGI Kota Surabaya yang telah memberikan
ruang berbagi dalam kegiatan yang sangat inspiratif ini. Kolaborasi antara
sekolah, organisasi profesi, dan pemerintah menjadi bukti bahwa peningkatan
kompetensi digital guru memerlukan sinergi dari berbagai pihak.
Sebagai penutup, saya menyampaikan bahwa transformasi
pendidikan tidak dimulai dari teknologi yang paling canggih, melainkan dari
kemauan guru untuk terus belajar. Artificial Intelligence hanyalah alat.
Kreativitas, kepedulian, dan dedikasi guru tetap menjadi fondasi utama
pendidikan. Ketika guru mampu memanfaatkan AI secara bijaksana, pembelajaran
akan menjadi lebih efektif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan peserta
didik di era digital.
Saya berharap kegiatan ini menjadi awal lahirnya lebih banyak inovasi pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia. Semoga semakin banyak guru yang berani mencoba, bereksperimen, dan berbagi praktik baik, sehingga AI benar-benar menjadi mitra dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas, bermakna, dan mempersiapkan generasi masa depan yang siap menghadapi tantangan abad ke-21.

.jpeg)


.jpeg)

Comments
Post a Comment