Sunday, February 22, 2026

GURU PRODUKTIF DI ERA DIGITAL BERSAMA ASISTEN AI

Awal tahun 2026 ini saya kembali diberi kesempatan untuk berbagi bersama Yayasan Peduli Pembelajar Merdeka (YPPM), dalam sebuah diklat yang menurut saya sangat relevan dengan kondisi pendidikan hari ini. Temanya sederhana, tapi dalam maknanya: “Guru Produktif di Era Digital Bersama Asisten AI.” Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 21–25 Februari 2026, dengan tatap muka virtual pada 21 Februari pukul 09.00 WIB.

Kenapa tema ini dipilih? Karena saya melihat satu hal yang sama di banyak sekolah: guru-guru hebat, penuh dedikasi, tapi sering kewalahan dengan tuntutan administrasi, pembuatan media, laporan, hingga inovasi pembelajaran. Waktu terasa kurang. Energi terkuras. Ide ada, tapi sulit dieksekusi.

Di sinilah peran asisten AI menjadi menarik.

Saya tidak melihat AI sebagai pengganti guru. Sama sekali bukan. AI adalah alat bantu. Ia seperti asisten pribadi yang bisa membantu merangkum buku, menyusun modul, membuat soal, merancang media pembelajaran, bahkan membantu memahami aturan atau kebijakan baru dengan lebih cepat.

Banyak guru masih ragu. Ada yang takut salah. Ada yang khawatir dianggap “tidak asli” ketika menggunakan AI. Padahal yang perlu kita pahami, AI itu hanya alat. Seperti kalkulator, seperti komputer. Nilai dan arah tetap ditentukan oleh kita sebagai pendidik.

Dalam diklat ini, saya ingin mengajak guru untuk naik level. Bukan hanya sekadar bisa menggunakan AI, tapi benar-benar produktif bersamanya. Produktif artinya apa? Artinya output kita meningkat, kualitas kerja lebih baik, dan waktu kita lebih efisien.

Video Tatap Muka Virtual

Bayangkan ketika menyusun RPP atau modul ajar tidak lagi dimulai dari nol. Bayangkan ketika membuat media presentasi hanya butuh ide inti, lalu AI membantu mengembangkannya. Bayangkan ketika harus memahami aturan baru, kita cukup meminta ringkasan yang jelas dan terstruktur.

Semua itu bukan lagi masa depan. Itu sudah terjadi sekarang.

Materi dalam diklat ini dirancang praktis. Kita akan belajar bagaimana memanfaatkan asisten AI untuk belajar lebih cepat, membuat media lebih kreatif, dan memahami konsep atau regulasi dengan lebih mudah. Bahasa yang digunakan sederhana. Langkah-langkahnya sistematis. Bahkan bagi yang benar-benar baru mengenal AI pun tetap bisa mengikuti.

Saya ingin guru merasa percaya diri. Tidak lagi merasa tertinggal. Tidak lagi merasa “gaptek”. Karena sejatinya, kemampuan belajar guru itu luar biasa. Hanya perlu ruang dan pendampingan yang tepat.

Dalam kegiatan ini, peserta akan mendapatkan sertifikat 32 JP, modul diklat, rekaman tatap muka virtual, serta video tutorial. Artinya, proses belajar tidak berhenti saat sesi selesai. Semua bisa dipelajari ulang dengan santai di rumah.

Yang membuat saya semakin optimis, kegiatan ini menggunakan konsep investasi infaq terbaik. Artinya, semangatnya bukan sekadar komersial, tetapi kolaboratif. Kita ingin membangun ekosistem belajar yang saling menguatkan.

Sebagai pemateri, saya membawa pengalaman lapangan. Saya merasakan sendiri bagaimana AI membantu pekerjaan menjadi lebih ringan. Saat harus menyiapkan materi pelatihan, menyusun artikel, atau membuat konsep program, AI menjadi partner diskusi yang cepat dan responsif.

Tentu saja, tetap perlu sentuhan manusia. Tetap perlu penyaringan. Tetap perlu nilai. AI tidak punya empati, tidak punya kebijaksanaan. Itu tetap milik guru. Tapi untuk urusan teknis dan eksplorasi ide, AI sangat membantu.

Saya sering mengatakan, di era digital ini guru punya dua pilihan: menjadi penonton atau menjadi pemain. Jika kita memilih menjadi pemain, maka kita harus berani mencoba teknologi baru. Tidak harus langsung mahir. Yang penting mulai.

Materi Diklat

Guru Sat Set Bareng AI by Bagus Sumantri

Diklat ini bukan tentang menjadi ahli teknologi. Ini tentang mindset. Mindset bahwa belajar itu seumur hidup. Mindset bahwa perubahan bukan untuk ditakuti, tetapi dihadapi.

Saya percaya, guru yang produktif akan membawa dampak besar bagi muridnya. Guru yang mampu mengelola waktu dengan baik akan lebih fokus pada pembinaan karakter. Guru yang terbantu secara teknis akan punya energi lebih untuk mendampingi siswa secara personal.

Harapan saya sederhana. Setelah mengikuti diklat ini, para guru tidak hanya pulang dengan sertifikat, tetapi dengan kebiasaan baru. Kebiasaan berdiskusi dengan AI saat menyusun materi. Kebiasaan mengecek ide kreatif dengan bantuan teknologi. Kebiasaan bekerja lebih cerdas, bukan hanya lebih keras.

Kita tidak bisa menolak perubahan zaman. Tapi kita bisa memilih bagaimana menyikapinya. Saya memilih untuk belajar, beradaptasi, dan mengajak sebanyak mungkin guru untuk bergerak bersama.

Era digital bukan ancaman. Ia adalah peluang. Dan asisten AI bukan saingan. Ia adalah partner.

Semoga melalui kegiatan ini, semakin banyak guru yang percaya diri, semakin banyak karya yang lahir, dan semakin banyak inovasi pembelajaran yang tercipta.

Karena pada akhirnya, tujuan kita tetap sama: menghadirkan pendidikan yang lebih baik untuk generasi masa depan. 

No comments:

Post a Comment